Cerdas Berkendaraan: Menggabungkan Akhlak Mulia di Jalan Raya

Oleh Aslinda
Perjalanan sehari-hari, terutama bagi kita yang harus menempuh jarak jauh menuju tempat kerja, sering kali menjadi bagian yang tak terhindarkan dalam kehidupan. Sejak Oktober 2023, ketika saya ditugaskan menjadi kepala MTsN 2 Tanah Datar, rutinitas baru ini mulai mengisi hari-hari saya. Setelah 20 tahun bertugas di Padangpanjang, perubahan ini tidak hanya menguji ketahanan fisik tetapi juga keterampilan mengemudi saya. Setiap hari, saya harus menyetir dari Padangpanjang ke Batusangkar, sebuah perjalanan yang penuh liku-liku, terutama bagi seorang ibu yang mungkin tak terbiasa dengan jalan yang ekstrem. Namun, di balik tantangan itu, banyak pelajaran penting yang bisa diambil, salah satunya adalah bagaimana menjadi pengemudi yang cerdas sekaligus berakhlak mulia di jalan raya.
Tantangan di Jalan Raya
Selama perjalanan setiap pagi, banyak hal yang saya temui. Jalan dari Padangpanjang ke Batusangkar cukup menantang, penuh dengan tikungan dan turunan tajam. Selain kondisi jalan yang menuntut kewaspadaan ekstra, saya juga harus menghadapi truk besar, angkot, pengendara motor yang kurang teratur, hingga pejalan kaki yang seringkali kurang disiplin.
Misalnya, ketika berhadapan dengan truk-truk besar, ada cara khusus untuk meminta jalan. Sebagai pengemudi, saya menyadari bahwa truk-truk ini memiliki visibilitas terbatas. Oleh karena itu, memberikan klakson dengan lembut sebagai isyarat sering kali lebih efektif dibandingkan membunyikannya dengan keras. Truk-truk tersebut biasanya akan memberikan jalan dengan tenang jika kita memberikan tanda dengan sopan. Demikian pula dengan angkot, mereka akan merespons jika kita menggunakan pendekatan yang lebih bersahabat. Sikap ini menjadi contoh kecil bagaimana akhlak mulia juga bisa diterapkan dalam hal-hal yang sederhana, seperti meminta jalan.
Akhlak di Jalan Raya
Menjadi pengemudi yang cerdas bukan hanya tentang keterampilan teknis dalam mengendalikan kendaraan, tetapi juga tentang bagaimana kita bersikap di jalan. Dalam Islam, kita diajarkan untuk berlaku sopan dan berakhlak mulia dalam setiap aspek kehidupan, termasuk di jalan raya. Salah satu akhlak yang harus kita praktikkan adalah sabar. Di tengah lalu lintas yang padat, terkadang kita harus menunggu lebih lama dari yang diharapkan. Menunggu angkot yang berhenti mendadak atau pengendara motor yang sembarangan membutuhkan kesabaran ekstra.
Namun, akhlak mulia juga berarti menjaga keselamatan orang lain. Misalnya, saat hujan, jalanan menjadi licin dan air tergenang di beberapa titik. Ketika saya bertemu dengan pejalan kaki atau pengendara motor di kondisi seperti ini, memperlambat laju kendaraan menjadi tindakan yang bijak agar mereka tidak terkena cipratan air. Hal kecil ini adalah wujud dari tanggung jawab sosial kita di jalan, di mana kita saling menghargai kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan lain.
Perjalanan Pagi yang Penuh Makna
Setiap hari, saya memulai rutinitas dengan bangun pukul 04.00 pagi. Setelah menyiapkan sarapan dan melaksanakan sholat, saya berangkat pada pukul 06.05 dari rumah. Perjalanan yang memakan waktu sekitar satu jam lebih itu sering kali membawa pengalaman yang berbeda setiap harinya. Di tengah perjalanan, tidak jarang saya menumpangkan rekan-rekan yang terlambat atau tidak sempat naik kendaraan umum. Ada guru dari MAN 2 Tanah Datar, pegawai pertanian, hingga pegawai rutan yang kadang saya temui dan beri tumpangan.
Memberi tumpangan kepada mereka bukan hanya soal membantu sesama, tetapi juga mencerminkan sikap peduli dan tolong-menolong di jalan. Ini adalah bagian dari akhlak yang harus kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika berkendara. Bagaimana pun, perjalanan bukan hanya tentang sampai di tujuan, tetapi juga tentang bagaimana kita berinteraksi dengan sesama pengguna jalan.
Menjadi Pengemudi yang Bertanggung Jawab
Menjadi pengemudi yang bertanggung jawab tidak hanya tentang mematuhi aturan lalu lintas, tetapi juga tentang menjaga etika berkendara. Saat kita mengemudi, kita bukan hanya bertanggung jawab atas keselamatan diri kita sendiri, tetapi juga keselamatan orang lain. Menyadari hal ini membuat kita lebih berhati-hati dalam mengambil setiap keputusan di jalan.
Dalam perjalanan pulang-pergi ke MTsN 2 Tanah Datar, saya belajar banyak tentang pentingnya mengemudi dengan akhlak yang baik. Di tengah lalu lintas yang tidak selalu lancar, tetap sabar, menjaga emosi, dan menghormati sesama pengguna jalan menjadi kunci penting untuk menciptakan suasana berkendara yang aman dan nyaman.
Refleksi
Perjalanan hidup sering kali memberikan pelajaran berharga melalui hal-hal yang kita anggap sepele, termasuk ketika kita berada di balik kemudi. Mengemudi dengan cerdas dan penuh akhlak mulia tidak hanya menjaga keselamatan kita sendiri, tetapi juga menjaga hubungan baik dengan sesama pengguna jalan. Karena pada akhirnya, jalan raya adalah milik bersama, dan kita semua memiliki tanggung jawab untuk saling menjaga.
Dengan begitu, perjalanan saya setiap hari dari Padangpanjang ke MTsN 2 Tanah Datar bukan hanya sekadar rutinitas, tetapi juga kesempatan untuk belajar dan menerapkan akhlak mulia dalam berkendaraan. Semoga kita semua dapat menjadi pengemudi yang cerdas dan berakhlak baik di jalan raya.
![]()











